Kisah Cemara Skandinavia
(Saya menuliskan ini sambil terkenang betapa di Indonesia kita memiliki begitu banyak pengalaman buruk dengan sampah: huru-hara Bantar Gebang dan TPA lainnya, serta peristiwa Bandung lautan sampah )

Keinginan untuk mencari pohon natal terbaik membuat orang menelusuri hutan dan memilih satu dari sekian pucuk cemara yang tersedia.
Bagi saya yang tidak ikut merayakan natal, menyaksikan natal disini tetap memberi suasana yang lain terutama melihat bagaimana pohon cemara itu dimaknai. Kalau dulu saya sering melihatnya di film, sekarang saya berkesempatan mengamati cerita pohon natal.
Didaerah saya sementara ini tinggal, hampir setiap ruang utama atau beranda rumah dan apartemen dihiasi pucuk cemara baik asli maupun sintetis, dilengkapi lampu dan ornamen hiasan yang memberi suasana hangat di tengah bekunya musim dingin Skandinavia (suhu berkisar minus 3 s.d minus 10 derajat celsius).
Pohon natal di daratan Skandinavia disebut Julgranen, kira-kira dari Jul: natal dan Granen: pohon. Perjalanan pohon cemara Skandinavia di mulai dari hutan dengan perhentian singkat untuk dihias dan dipajang diruangan rumah lalu berakhir di tungku pembakaran , dan kehangatan seperti ditebar untuk semua aktivitas tersebut.Di Skandinavia, pohon cemara memberi kehangatan ditengah bekunya musim dingin: sebelum, selama dan sesudah prosesi natal. Hutan cemara banyak tumbuh hampir disetiap wilayah, namun kebanyakan dimiliki oleh badan usaha atau orang kaya. Mereka yang ingin menebang pucuk cemara sendiri biasanya harus mencari hutan yang agak jauh di pelosok atau membeli ijin penebangan cemara dari pemilik hutan. Penebangan liar dilarang oleh undang-undang, jadi hanya hutan tertentu saja yang pohonnya boleh ditebang.
Pohon cemara jenis Norway Spruce paling banyak diminati karena populasi mereka yang memang banyak sehingga harganya lebih murah serta bentuk jarum daunnya yang dinilai cocok digantungi pernik-pernik hiasan dan lampu natal. Memilih cemara mana yang akan ditebang bukan perkara gampang, mereka yang ingin mengambil pucuk cemara berukuran besar harus menanggung resiko tatkala pucuk sudah ditebang dan tiba waktunya menyeret pucuk tersebut keatap mobil, kerepotan membawanya sepanjang jalan dan membawa masuk rumah lalu menata penempatannya di ruangan. . Tapi memilih yang terlalu kecil juga tidak asyik karena kesan yang ditampilkannya kurang.

Contoh hiasan natal pohon natal. Ornamen diatas adalah sedotan yang dirangkai menjadi bentuk domba dan menjadi salah satu ciri khas ornamen pohon natal di Swedia. Satu set ornamen ini dijual dengan harga kurang lebih Rp. 85.000.
Dikenyataannya, orang-orang lebih suka membeli pucuk cemara di gerai khusus penjual pucuk cemara terdekat untuk alasan kemudahan. Pohon natal sintetis juga tersedia dan harganya jauh lebih murah, namun kebanyakan hanya sebagai penghias tambahan saja. Menurut kantor statistik Swedia, Statistik Central Byran, lebih dari 3 Juta pohon cemara asli terjual di Swedia saja setiap tahunnya ( Swedia memiliki 3,4 Juta rumah tangga).
Setelah natal 25 Desember bukan berarti perayaan akan berakhir, berdansa dan menyanyi serta menikmati pohon terus berlangsung. Di malam ke-20 setelah malam natal, sebuah seremoni digelar, Tjugondag Knut- adalah acara berdansa dan menyanyi mengelilingi pohon natal terakhir yang secara tidak resmi menandakan berakhirnya natal dan menyambut pertengahan winter yang gelap dan lebih dingin…
Kisah pohon natal masih belum berakhir disini. Segera setelah Tjugondag Knut, dewan kota setempat akan memerintahkan pengumpulan semua pohon natal yang sudah dilucuti dari lampu dan ornamennya dan ditaruh di luar rumah.
Pohon cemara sisa natal akan dikelola oleh perusahaan pengelola sampah & limbah. Pohon tersebut dipotong kecil-kecil untuk kemudian dicampur dengan sampah sisa rumah tangga dan dibakar dalam sebuah tungku pembakaran raksasa. Panas pembakaran digunakan untuk memanaskan air yang selanjutnya disalurkan ke rumah-rumah sebagai pemanas selama musim dingin, serta sebagai penggerak turbin pembangkit listrik.

Tekniska Verken, disinilah sampah pohon natal dan sampah rumah tangga digunakan untuk membangkitkan listrik dan menghasilkan air panas untuk dikirim kembali kerumah-rumah.
Panas serta listrik yang dihasilkan akan kembali ke rumah dalam waktu sepuluh jam setelah mulai dibakar. Sebuah pohon cemara rata-rata seberat 5 kilogram bisa menghasilkan tenaga listrik yang cukup untuk menghidupkan lampu 60 Watt selama 6 hari atau cukup untuk mendidihkan air pemanas satu ketel selama 4 jam.
Orang Skandinavia sering berujar bahwa kayu cemara memberi kehangatan dalam 3 kesempatan: saat orang menebang dan membawanya kerumah, saat mereka berdansa disekelilingnya dan saat mereka membakarnya.
Bacaan lebih jauh:




2 Comments, Comment or Ping
Jauhari
Itu fotonya siapa mas?
Dec 25th, 2007
noe
Mas Jauhari, yang pasti bukan muka saya..muka saya jauh lebih coklat
Dec 25th, 2007
Reply to “Kisah Cemara Skandinavia”