La Galigo, Borobudur dan Warisan Yang Tersia-sia
Saya ingat pernah membaca ulasan La Galigo di Kompas beberapa tahun silam, dan jadi teringat kembali setelah membaca RSS langganan saya tadi pagi. Pada intinya rss itu memberitakan Galigo akan dipentaskan di kota Milan pada bulan Februari.
La Galigo disini adalah sebuah pementasan teater spektakuler (lihat foto diatas) yang didasarkan pada epik karya bangsa Bugis setebal 6000 halaman, Sureq Galigo. Epik ini tercatat sebagai epik terpanjang didunia, lebih panjang daripada Mahabharata. Sureq Galigo ditulis dalam bahasa Bugis Kuno pada abad ke-14. Anda dapat membaca sinopsis singkat Galigo disini.
Yang pasti kita berhutang pada inisiatif dan kerja keras Robert Wilson, Rhoda Grauer serta Rahayu Supanggah dan kelompok teater tersebut yang telah menerjemahkan sastra kuno setebal itu menjadi pementasan berkelas. Ditangan merekalah Galigo seperti “lahir kembali” dan bisa dikenal didunia. Pentas Galigo (saya juga belum pernah nonton he he), dihargai sebagai mahakarya dikalangan dunia dan selalu mendapat penilaian bagus, baca salah satu ulasannya di koran New York Times. Karya tersebut secara ironis baru bisa dipentaskan di Jakarta tahun 2005 setelah terlebih dahulu mendunia dan dinilai luar biasa.
Ingat karya bangsa yang mendunia *), saya juga teringat dengan Candi Borobudur . Bukan apa-apa, karena secara emosional saya menghabiskan masa kecil dan remaja saya didaerah tersebut. Candi warisan besar ini mungkin akan dilupakan masyarakat dunia dan Indonesia karena rusak parah dan terkubur, saat Raffles menemukan dan mulai memperbaikinya (Raffles jugalah pencetus kota bernama Singapura). Dipugar secara besar-besaran pada tahun 80-an oleh UNESCO, dan kita mulai menikmati hasilnya dari pajak pengunjung dan belanja wisatawan. Tetangga sayapun banyak yang menggantungkan nasibnya dengan berjualan dilokasi taman candi.
Namun kepopuleran candi ini terus berkurang dimata dunia internasional dan juga lokal. Kalau anda pernah berkunjung di Borobudur tahun 90-an dan membandingkannya dengan keadaan candi dan kompleksnya akhir-akhir ini, anda dengan cepat akan bisa menjawab alasan penurunan ini.
Sebagai warga yang ber-KTP kecamatan Borobudur saya bisa mengatakan terlalu banyak eksplorasi dan tidak adanya pengaturan yang baik. Kondisi taman yang makin semrawut dan kotor serta tidak ada perkembangan yang berarti dalam fasilitas maupun fitur lainnya, juga promosinya terkesan kurang terobosan. Ini masih diperparah dengan kondisi keamanan negara sampai dilarangnya Garuda terbang ke Eropa
.
Dua peninggalan budaya diatas memiliki kemiripan, dibuat oleh bangsa kita. Dilahirkan kembali sebagai mahakarya oleh orang asing (dan kita baru sadar kehebatannya setelah itu) dan kemudian ada kecenderungan kita akan menyia-nyiakannya begitu saja secara bertahap. Sebenarnya, tanpa pertimbangan komersial apapun, sudah sewajarnya negara (pemerintah) menjamin warisan budaya seperti ini terjaga dan terawat baik karena mereka adalah identitas masa lampau dan budaya kita sendiri. (barangkali hal seperti ini tidak akan pernah cukup menarik dibicarakan di arena politik populer ya?).
Tapi satu hal patut disayangkan, masa sih kita lagi-lagi harus mengandalkan turun tangan orang asing lagi untuk membesarkan karya bangsa sendiri setelah mereka jugalah yang memberi nafas kedua?
* sebenarnya ada karya lain lagi yang bahkan melebihi kelas internasional, karena kelasnya sudah meng-galaksi. Yaitu Gending Ketawang Puspawarna karya Mangkunegoro IV, yang bersama 26 jenis musik lainnya dikirim keluar angkasa bersama pesawat Voyager pada tahun 1977




One Comment, Comment or Ping
fisto
tipikal Indonesia banget…kalo ada aset atau tempat bagus, pasti lama2 gak terurus dan kemudian mati…
mungkin memang lebih baik minta pihak asing turun tangan…
Jan 4th, 2008
Reply to “La Galigo, Borobudur dan Warisan Yang Tersia-sia”