Setelah Era IT ke Era ET ?
Thomas Friedman, penulis buku laris The World is Flat dan kolumnis liberal harian New York Times kembali dengan buku baru. Berjudul Hot, Flat, and Crowded: Why We Need a Green Revolution, buku ini adalah pemikiran, prediksi sekaligus respon Friedman atas kecenderungan Amerika sebagai negara yang ketagihan minyak. Berdasarkan asas, siapa yang menguasai teknologi hijau akan menguasai masa depan, Friedman berusahan meyakinkan apabila Amerika ingin tetap berdiri sebagai negara adikuasa tunggal, maka mereka harus segera memulai revolusi hijau secara besar-besaran.
“Bisnis global setelah era Teknologi Informasi (IT) adalah Teknologi Energi (Energy Technology - ET), negara yang paling menguasai ET atau dengan kata lain negara yang paling hijau akan menikmati keuntungan ekonomis, keuntungan strategis dan standar hidupnya akan lebih baik.”
Dengan makin kencangnya gerakan revolusi hijau dan makin membesarnya ancaman pemanasan global, ET memang secara strategis akan menjadi pertimbangan banyak negara ketika menyusun kebijakan pembangunan mereka. Buku yang bagus.
Efektivitas dan Transparansi Iklan Politik
Jengkel melihat spanduk dan baliho berisikan tampang para politisi yang bertebaran di sepanjang jalan? Jenuh menyaksikan iklan kandidat gubernur dan presiden? sama!! Sudah lama Indonesia dikenal sebagai negeri spanduk karena saking banyaknya spanduk dan papan iklan bertebaran ditiap sudut dan pinggir jalan. Bagi anda yang pernah menyambangi negara lain, mungkin hanya kota New York atau Tokyo yang bisa mendekati tingkat kepadatan jumlah spanduk dan papan iklan dijalanan di Indonesia. Spanduk dan iklan politik di Indonesia bersaing keras dengan papan iklan rokok dan iklan kartu SIM telepon genggam.
Di televisi, pemandangan serupa muncul. Prabowo, Sutrisno Bachir, Rizal Mallarangeng dan Wiranto adalah tokoh yang paling sering menjajakan dirinya di dalam ruang teve kita. Ditambah beberapa iklan kandidat gubernur atau bupati yang secara periodik muncul seiring dengan periode pilkada.
Biaya dan Efektifitas Iklan
Saya kebetulan pernah mengurus biaya perijinan beberapa billboard untuk usaha di Dinas Cipta Karya (bagian dari Dinas Pendapatan Daerah). Untuk billboard berukuran sekitar 4 meter persegi, mereka akan menetapkan pajak sekitar Rp. 2 Juta (tergantung wilayah) selama setahun. Mungkin bukan perbandingan yang eksak dan benar, tapi paling tidak bisa memberi bayangan. Belum lagi biaya pengerjaan yang dikeluarkan. Asumsikan seorang politisi memasang 500 papan iklan seluas 4 meter persegi di satu kabupaten selama 2 bulan, hitungan kasar saya mengatakan ia akan mengeluarkan biaya sekitar Rp.160 Juta.
Berapa biaya iklan di televisi? Sutrisno Bachir menurut kabar menghabiskan sekitar Rp. 15 Milyar setiap bulan. Dan koran? iklan satu halaman penuh di harian Kompas bisa menghabiskan lebih dari Rp. 75 Juta.
Demokrasi memang mahal, selain karena biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk menyelenggarakan pesta demokrasi yang sedemikian besar, juga ditambah oleh pengeluaran para politisi yang berkompetisi mendapatkan suara di dalam pesta tersebut. Apakah pemilihan umum dan pemilihan daerah yang menelan dana bertrilyun-trilyun rupiah ( oh, uang tersebut berasal dari kita, para pembayar pajak!! ) tersebut menghasilkan wakil rakyat dan pejabat publik yang berkualitas sesuai janji-janji kampanye mereka? anda bisa mengelus dada berusaha menjawabnya…
Dan apakah biaya kampanye lewat spanduk dan iklan media tersebut efektif, secara pasti belum pernah ada survey yang menghubungkan keduanya di Indonesia. Survey terdekat yang mengukur keberhasilan iklan melalui media dalam mendongkrak popularitas politisi adalah sebuah survey yang dilakukan oleh IRDI (Indonesian Research & Development Institute) bulan Juni lalu. Dan apakah menurut survey rata-rata iklan politik sukses merebut hati rakyat? sayangnya tidak.
Transparansi Biaya Politik
Di Amerika Serikat, pelopor demokrasi yang sering ditiru Indonesia, proses pemilihan umum selalu dibuat transparan. Kita bisa membaca laporan anggaran kampanye tiap kandidat yang memang selalu dilaporkan untuk publik, kita bisa melihat anggaran iklan politik, bahkan kita bisa melihat berapa dana kampanye yang digunakan untuk menyewa kamar, membeli minum dan kue. Tapi yang jauh lebih penting, pemilih juga bisa melihat daftar penyumbang kampanye tiap kandidat. Tidak ada biaya siluman, tidak ada uang siluman, paling tidak ditekan serendah-rendahnya.
Di Indonesia, kita akan sangat kesulitan mengakses informasi mengenai biaya kampanye, biaya iklan politik apalagi melihat daftar penyumbang kampanye! Transparansi, adalah esensi demokrasi. Tanpa transparansi, para politisi akan seenaknya sendiri memainkan kemampuan finansial untuk menelikung semua batasan yang ada.
Jalan Keluar
Tidak ada jalan pintas. Kandidat wakil rakyat dan pejabat harusnya menyikapi pemilihan umum dan daerah sebagai ajang untuk menampilkan prestasi dan kontribusi mereka sebagai pembantu publik sehingga layak dipilih. Kecenderungan iklan politik dan kampanye politik kita adalah menjual narasi dan biografi diri yang dilebih-lebihkan, bukan menjual prestasi dan kontribusi. Menjual janji dan bukan bukti, menjual hura-hura (kumpul-kumpul) dan bukan komitmen. Jenis iklan dan kampanye yang ada semacam ini mungkin bisa menipu pemilih untuk sementara, tapi dalam jangka panjang pemilih juga akan mulai terdidik dan selektif. Kandidat pejabat publik jelas harus bekerja keras untuk publik sebelum bisa menjual tampang. Anda bisa menipu, tapi anda tidak bisa menipu selamanya.
Transparansi biaya politik juga harus jelas, audit publik bisa dilakukan dalam setiap proses kampanye politik dan pembatasan sumbangan perseorangan atau isntitusi terhadap kampanye bisa dijalankan. Penyelenggaraan pemilihan umum dan daerah yang kotor dan korup jelas saja akan terus-terusan menghasilkan pejabat dan wakil rakyat yang sama kotor dan korupnya. Kita sebagai pembayar pajak wajib menagih hasil dari pembelanjaan uang yang begitu besar untuk proses pemilihan umum atau daerah (pilkada Kab. Ngawi menghabiskan anggaran Rp. 12,5 milyar). Demokrasi memang mahal, karena itu hasilnya harus maksimal.
Large Hadron Collider: Mari Menemukan Partikel Tuhan
Konsorsium Nuklir Eropa (CERN) hari Rabu (10 September 2008) berhasil memulai eksperimen yang sudah lama tertunda. “Alat mainan” mereka bernama Large Hadron Collider (LHC - Penumbuk Hadron Raksasa), sebuah terowongan magnet bertenaga super besar sepanjang 27 kilometer yang dibangun di perbatasan Swiss - Perancis.
Inti dari percobaan super mahal ini adalah untuk membuktikan teori ledakan besar (big bang) dan menemukan “partikel tuhan”, suatu partikel yang diteorikan oleh fisikawan Inggris, Peter Higgs. LHC digunakan untuk mempercepat partikel sehingga mendekati kecepatan cahaya untuk kemudian saling ditumbukkan. Kejadian ini akan menyerupai urutan pembentukan alam semesta sesuai teori big bang. Adapun “partikel tuhan” adalah partikel yang muncul setelah ledakan.
Eksperimen ini telah memakan waktu 25 tahun untuk persiapan, menelan dana sekitar 540 triliun Rupiah dan melibatkan 9000 ilmuwan jenius dari segala penjuru bumi. Dengan pengorbanan sebesar itu, hasil apa yang diharapkan oleh Konsorsium Nuklir Eropa ( CERN)? Mereka berharap, eksperimen ini akan mampu menjawab beberapa pertanyaan mendasar tentang alam semesta. Kenapa alam semesta mengembang? berapa kecepatan pengembangannya? Apa yang menghentikan gerak spiral galaksi kita?
Namun tentu saja, hadiah utama eksperimen mereka adalah untuk menemukan partikel tuhan, seperti dijelaskan oleh teroi Peter Higss. Sebuah partikel yang dipercaya memberi massa pada setiap benda di alam semesta. Teori Higgs berawal dari keheranannya mengapa benda bermassa akan kehilangan wujud jika bagian-bagiannya dipecah dalam ukuran moleul, atom, dan quark. Dari sana, ia berpendapat bahwa materi pertama yang terbentuk di ruang angkasa tidak memiliki berat di awal pembentukan alam semesta. Namun, seiring bertambahnya waktu, materi semakin besar massanya.
Misi Lain
Namun disisi lain, CERN juga memiliki misi yang lain. Seperti dikatakan oleh direktur mereka, Robert Aymar. “LHC adalah sebuah mesin penemuan, dan program penelitian yang kami lakukan sekarang ini memiliki potensi untuk mengubah pandangan kita tentang semesta secara drastis. Dan kami melanjutkan tradisi mewakili keingintahuan manusia, yang adalah sifat bawaan yang hadir sejak kita dilahirkan.”
Prinsip yang melatarbelakangi CERN dalam melakukan eksperimen ini, dan juga menjadi inspirasi semua ahli Fisika adalah untuk membuktikan bahwa alam semesta dibalik ukurannya yang besar dan kandungannya yang kompleks, sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang teratur, masuk akal dan anggun. Hampir semua penemuan besar di bidang Fisika adalah sebuah penemuan tentang semesta yang bisa diwakilkan dalam persamaan matematika yang simpel, terurut dan simetris, atau dengan kata lain “indah.”
“Dalam pencarian kebenaran dan keindahan…” mungkin hal itulah yang membuat mereka berkorban begitu banyak dalam eksperimen ini. Sebuah petualangan mahal, bagi para ilmuwan. Jadi apa petualangan kita mencari kebenaran dan keindahan ??
Baca lebih jauh:
- Cara kerja LHC secara teori dan grafik interaktif eksperimen LHC
Hore Siaran Langsung Liga Inggris Gratis!
Bukan tipuan, bukan isapan jempol. Siaran langsung liga Inggris akan bisa mulai dinikmati secara gratis segera. Terhitung sejak Sabtu, 13 September 2008 besok, siaran langsung liga Inggris akan ditayangkan di TvOne. Tapi…
Berapa jumlah pertandinganya? hanya 60.
Mana saja yang disiarkan? yang pasti bukan big match.
Hmmm… saya jadi rindu saat AC Milan dan Juventus beserta Liga Italia-nya kelasnya masih diatas Liga Inggris… semua tetap gratis…segratis-gratisnya. Liga Inggris? komersial amat! …juga, sialan Aora TV.
Yang pasti saat Aora TV (yang mengenakan tarif berlangganan sebesar Rp 1.700.000 selama 12 bulan) Sabtu besok menyiarkan secara langsung partai Liverpool - MU, saya akan menyaksikan tayangan Portsmouth - Middlesbrough.
Berhentilah makan daging, anda membantu mengurangi pemanasan global
Rajendra Pachauri, kepala Panel Antar Pemerintah Tentang Perubahan Iklim, kepada koran Inggris Observer, mengatakan bahwa kalau anda mengurangi konsumsi daging, maka anda akan membantu menurunkan pemanasan global. “Berhentilah makan daging sehari saja (dalam seminggu), paling tidak sebagai usaha awal, lalu kurangilah terus-menerus secara berkala, sungguh usaha tadi akan membantu mengerem pemanasan suhu global”.
Kenapa daging? Menurut laporan badan pangan PBB - FAO tahun 2006, usaha peternakan (sapi dan babi) diseluruh dunia menyumbang 18 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia. Sebagai pembanding, emisi seluruh mobil, kereta, kapal sampai pesawat terbang hanya menyumbangkan sekitar 13 persen dari emisi gas rumah kaca. Whoa! Masih menurut FAO, peternakan ini bisa menyumbangkan begitu besar karena secara agresif mengurangi lahan hutan yang mengakibatkan penggundulan. Penggundulan hutan mengakibatkan pemanasan suhu bumi karena pepohonan hutan akan menyerap gas karbon di udara selagi masih hidup, dan akan melepas begitu banyak karbon ketika ditebang dan dibakar. Sebagai tambahan, kotoran hewan juga adalah penghasil karbon yang cukup fantastis karena mengandung metana, menurut penelitian seekor sapi bisa menghasilkan 200 liter gas karbon setiap hari.
Hmmm… kalau begitu sungguh dunia ini berhutang pada negara-negara dunia ketiga!! kenapa? karena kita masyarakat dunia ketiga yang masih miskin ini tak perlu disuruh-pun memiliki konsumsi daging rendah. Kita tak perlu diet daging karena daging-lah yang menjauh dari kemampuan kantong kita. Kita tak perlu menjadi vegetarian-pun sehari-hari tahu dan tempe (yang sempat mahal) menjadi sajian paling akrab. Data mengatakan bahwa konsumsi daging di negara berkembang hanya sepertiga dari konsumsi masyarakat negara maju.
Bagi anda yang suka daging, ini fakta yang cukup bisa membukakan mata:
- Selain menyumbang hampir seperlima kepada pemanasan global, daging juga membuat tubuh anda “kepanasan” karena kolesterol. Ingatlah, steak yang kita makan pelan-pelan membuat jantung kita makin kepayahan.
- Berhenti makan daging selama sehari selama anda hidup setara dengan usaha mengganti mobil bensin anda dengan mobil hibrida semacam Prius
- Uang yang anda keluarkan untuk seporsi steak tenderloin cukup untuk memberi makan 3 keluarga miskin dalam sehari.
Jadi anda sudah mengganti bola lampu anda dengan CFL? sudah membeli mobil yang irit bahan bakar? hmmm… anda masih kalah dengan mereka yang tidak makan daging.
Baca lebih jauh tentang:



